Monday, September 22, 2014

DAY 2-4 : MADINAH

MADINAH : HOTEL AL-HARAM

Kami sampai di Hotel AL-HARAM jam 11 malam, Hotel ini bintang-4, kalau tidak salah termasuk yang baru di renovasi, sehingga suasananya bersih, modern sesuai standard international. Di depan pintu Masuk Utama dipasang sebuah nampan kuningan ukir besar diatasnya ada semacam guci kuningan ukir yang berpori, didalamya dipasang dupa khas Arab, sehingga wanginya memenuhi Lobby..cantik dan sangat Arab..

 Setelah beres beres koper, lalu sholat malam, walaupun sambil duduk saking sudah pegel n capeknya, lalu tidur deh. 
Kami tersentak Bangun karena kaget dengar suara Adzan keras banget...rupanya di dalam kamar ini dipasangi speaker yang terhubung ke Masjid Nabawi, sehingga suara Adzan bisa kedengaran langsung.. Adzan apa nih ..Subuh ya??..sambil terkantuk-kantuk, kok rasanya cepet banget ya...masih ngantuuuk...walhasil ke Masjid pun terlambat lah... sambil grudak -gruduk buru buru ke Masjid, ternyata jaraknya sangat dekat, cuma nyebrang jalan sudah langsung memasuki area Ruko yang di depan Masjid  .

Subhanallah..Subuh hari itu Hujan turun..nah Hujan kan barang langka di Arab. Karena kami terlambat, akhirnya sholat di halaman, sambil cari cari tenda yang aman dari guyuran hujan. Sambil menunggu hujan Reda, saya dan Ibu saya duduk saja di halaman masjid, menikmati suasana pagi, ketika langit Madinah pelan-pelan mulai terang, garis-garis jingga semburat di langit.Pelan pelan berubah menjadi biru lembut dan burung burung berterbangan di sekitar langit Masjid.

 Hal yang paling saya sukai dari masjid Nabawi adalah suasana melankoliknya, tenang dan memudahkan khusyu. Saya juga paling senang duduk di teras masjid Nabawi pada Subuh dan menjelang Maghrib, apalagi kalau payung tenda nya sedang di tutup, kita bisa melihat langit yang luas penuh dengan warna kuning dan jingga ke emasan , mengitari masjid. (Beda dengan di Makkah, Masjidil Haram, suasananya sangat Dynamic dan bersemangat)

Tahun '98 ketika saya datang ke sini, belum banyak hotel tinggi mengitari Masjid, dan belum terpasang payung tenda, sehingga halaman Masjid sangat OPEN, langit terlihat begitu luas dan cerah, selesai sholat maghrib, saya dan keluarga saat itu duduk saja lesehan di teras, sambil minum teh panas dan roti, menikmati indahnya semburat matahari senja, aneka cahaya emas dan jingga  melingkupi kubah dan menara menara Masjid, burung burung sibuk berterbangan dan ramai sahut-sahutan. ..Syahdu sekali..Sayang saat ini keindahan itu sudah nyaris hilang, tertutup gedung tinggi dan jejeran tenda.

Menjelang jam 6 pagi saya dan ibu saya bergegas kembali ke Hotel, untuk mandi dan sarapan. karena jam 7 pagi sudah harus kumpul di lobby untuk bersama-sama mengunjungi Raudah dan Ziarah makam Rasullullah S.A.W. 

Jam 7 pagi di Lobby Hotel, sudah menunggu pemandu kami, seorang wanita Indonesia yang sudah mukim di Madinah sekitar 4 tahun, ikut suaminya. Suaminya menjadi pembimbing jamaah Umrah mewakili travel kami, sedangkan dia pemandu jamaah wanita. Ada juga seorang wanita yang memakai cadar dan jubah ala wanita Saudi, saya kira orang arab karena pakaian dan cara bicaranya dalam bahasa arab, eh...ternyata orang kita Indonesia dari Jawa Timur, sudah 12 tahun mukim di Madinah, dan bekerja selain sebagai pegawai Masjid Nabawi juga pemandu jamaah dari Malaysia dan Indonesia. Saya pun ngobrol lah tentang kesannya di negri orang..Menurutnya dia senang tinggal di Madinah, karena iklim pergaulan yang Islami sangat baik untuk pendidikan dan ahlak anak-anak nya, sehingga lebih mudah untuk proteksi anak dari aneka tayangan kekerasan dan pornografi. Selain tentu saja bisa mengabdi sebagai staff  di Masjid Nabawi adalah berkah yang besar.




RAUDHAH : ZIARAH KE MAKAM NABI DAN RAUDHAH.

Karena ibu saya pakai kursi Roda, maka oleh asykar saya dan ibu tidak boleh ikut gabung dengan pemandu dan teman-teman lainnya, repotnya ni askar gak bisa bahasa Ingris juga, bisanya nunjuk-nunjuk ke satu arah, lalu saya perhatikan..ooh..ternyata disana sudah berbaris jamaah dengan kursi roda, antriannya lumayan panjang, karena hanya 1 jalur. Maka sayapun bergabunglah dengan antrian tersebut, walaupun ibu saya khawatir karena kami tidak ditemani pemandu, "Nanti kita kesasar.." .."Ya sudah..Bismillah aja Mi, kan sudah beberapa kali Umrah, paling gak beda sama yang dulu lah caranya.." kata saya.. (tentang antrian di area Kursi roda ini bisa di baca di artikel saya sebelumnya)..pada Artikel yang ini, saya ingin cerita pengalaman antri ke Raudhah pada jalur Normal"...

Setelah selesai mengantar Ibu saya sholat di Raudah, saya pun minta ijin ibu untuk pergi lagi sendiri saja ke Raudhah, Ibu saya menunggu di suattu tempat. Sekali ini saya benar2 sendiri, karena rombongan saya sudah selesai duluan. Alhamdulillah nya di masjid ini banyak TKW Indonesia yang bisa ditanyai, mereka  bekerja dibagian distribusi Zam-Zam, dan kebersihan Masjid, mereka memakai seragam coklat muda..Umumnya dari Jawa Barat.

- Di masjidil Haram dan masjid Nabawi, hampir seluruh karyawan wanita adalah dari Indonesia , Umumnya Jawa Barat, jumlah mereka di Masjidil Haram saja ada sekitar 250 orang, dengan gaji sekitar 750 Riyal sebulan.-

Saya bertanya pada mereka jalan menuju Raudhah.. "itu lho buu.."..eh rupanya tdk jauh di depan saya..tapi kok..isinya orang orang pada duduk dengarin ceramah ??? Saya mendekat ragu ragu ke kelompok itu...rupanya akses menuju Raudha itu dibagi dalam antrian  beberapa gelombang, berdasarkan negara jamaah..nah sambil menunggu antrian, para jamaah di suruh duduk dan mendengar ceramah, penceramahnya pun dari masing masing negara..Jamaah Indonesia seperti biasa paling banyak jumlahnya, seorang ustadzah bercadar sedang ceramah dalam bahasa Indonesia yg fasih, sepertinya orang Indonesia yg mukim di Madinah dan sdh direkrut jadi  pengelola Masjid Nabawi. 

Disebelah rombongan Indonesia, duduk juga rombongan dari Iran, lalu dari  Turki, dan negara lain. sambil mendengar ceramah ustadzah masing masing .


OOH..rupanya untuk ke Raudhah gak bisa langsung tancap gas bablas  gitu aja, ada ruang tunggu -1 ( kita duduk sambil dengar ceramah) , lalu kira kira 15-20 menit baru kita di persilahkan masuk ke ruang tunggu -2 : disini kita  bisa duduk dzikir atau sholat sunnah, sambil tunggu jatah gelombang kita (berdasarkan negara asal jamaah) , kira kira 10 menit boleh masuk ke Ruang Raudhah yang diberi pembatas kain. 

 Tiba giliran antrian jamaah Indonesia, para pembimbingnya sibuk "menggelandang" jamaah masing masing, pegangan ya bu...jangan saling dorong, tetap dalam kelompok, jangan terpisah..nanti baca doa ini..itu, yang namanya Raudha adalah yg ini..itu, begitu kira kira sibuknya para pembimbing ngurusin para ibu ibu yg aneka tipe..ada yg nurutan..ada yang ketakutan, pegangan erat erat sama temannya,. ada yg gak sabaran mau nya main nyalip aja, ada yg ha ha hi hi mentertawakan situasi ini,  ada juga yg  badannya gede (kaya saya) dengan pedenya tegak gak bergeming jaga jalur..he he...jadi ingat suasana empet empetan bagi jatah dana keluarga miskin yang di TV itu...rada mirip neh....

Belum lagi teriakan teriakan pembimbing jamaah negara lain yg berantem sama asykar karena ngotot mau ikutan masuk ke Raudhah padahal belum giliran waktunya, belum lagi pembimbing Indonesia yg mungil mungil badannya , tapi astagaa...suaranya makk..bisa keras dan galak ketika adu debat dengan asykar atau pembimbing negara lain, karena jalur jamahnya di serobot negara lain...awalnya saya heran..kok gini amat sih..segitu perjuangannya????...tapi setelah masuk ke dalam ruang Raudhah, sayapun mengertilah, ruangan untuk wanita tidak se lapang ruang untuk pria, mungkin hanya 4 x 7 m, sementara ratusan orang antri diluar, nah..yang di dalam pada kepingin berlama lama, gak mau dijatah waktu, ada yg masih ingin tadarusan di depan makam Rasul, ada yg doa sambil cucur air mata dan belum puas kali "melapor" sama Allah nya, ada yang sujud gak bangun bangun sambil senguk senguk, (saya nyaris tersandung dan menimpa  jamah yg sujud, sungguh bahaya, di saat suasana padat , yg sujud jadi tidak kelihatan) ..jadilah para asykar harus galak, memaksa jamah yg sdh habis waktunya agar keluar , dan menahan jamah di luar agar tertib tidak saling serobot. 

Para Pembimbing Indonesia yg mungil badannya ini (jika dibanding jamaah negara lain yang guede-bongsor) ternyata tidak kalah strugglenya, " Disini bu...sholat disini, cepat cepat, bikin shaff, yang dibelakang bikin pagar betis  , jaga yg lagi sholat, lalu segera gantian ya.."...Alhamdulillah, saya bisa sholat pas di depan, dan langsung tenggelam dalam sholat yg haru..tiba tiba saja keributan, dorong dorong an dan sikut sikutan di sekitar saya seakan menjauh -teredam..Saya tidak berlama lama berdoa, kasih kesempatan yang lain untuk ambil tempat sholat saya dan langsung minggir cari tempat yg agak tenang untuk lanjut berdoa dan dzikir. Meskipun ada Hadist yg menyatakan tempat paling maqbul doa adalah di depan Raudhah, tapi saya percaya, dalam situasi seperti ini justru kelapangan hati  untuk berbagi tempat dan kesempatan kepada sesama saudara kita Muslim, juga InsyaAllah akan  di ridhai Allah, daripada sikut sikutan dan saling dorong atau ngotot menguasai satu tempat berlama lama. 

TERIAKAN vs MENGHORMATI RASULULLAH...

Suasana teriak teriak, adu mulut, saling rebut dan sikut di depan (Makam) Rasulullah SAW itu sangat merisaukan dan memprihatinkan saya...

Saya jadi ingat 25 tahun lalu saya HAJI , saat itu saya masih muda usia 20 an  (sekarang juga masih muda ..he he), waktu itu suasana di Raudhah tidak lah se riuh rendah ini...jatah jamaah wanita untuk ke Raudhah adalah waktu Dhuha..saat itu saya masuk ke Raudhah yg sepenuhnya hanya untuk jamah wanita, jadi tidak sesak dan sempit seperti sekarang ini. Kita bisa lihat Makam Rasullah SAW dan para Shahabat dengan bebas tanpa di batasi tabir, tidak pakai desak desakan, tidak ada keributan dan teriakan teriakan asykar. Mau sholat dimana saja hayuu...mau duduk berlama lama di depan Raudhah pun hayuuu..

Saat itu masih pagi, jadi masih sepi di depan Makam Rasulullah SAW, hanya ada belasan jamaah wanita disana, saya pun masuklah dengan santai sambil melihat lihat interior masjid yang indah, mengagumi plafond kubahnya yg bisa bergeser tanpa suara menguindang  masuknya udara segar pagi...lalu dengan rasa ingin tahu saya berjalan mendekati pagar besi yg melingkupi Makam Rasulullah SAW dan para shahabat, mengintip intip dari celah pagarnya ke dalam ruangan sambil mikir mikir "kayak apa sih Makam Rasululullah??"..."ooh..kayak gini tho ternyata.."....puas celingukan dan lihat lihat ..saya pun duduklah istirahat  sambil dzikir, sambil mikir mikir  "Rasulullah itu seperti apa ya?? Pingin deh bertemu Rasulullah"....sambil juga  pikiran melayang entah kemana mana...susana di ruangan itu tentram, sepi dan lembut...tidak lama masuklah seorang Pak tua yang sudah agak bungkuk dan rambutnya memutih,   menggiring jamah ibu ibu dari Pakistan (sepertinya) ...sesuatu di wajah kakek  itu menarik perhatian saya...wajahnya seperti selalu tersenyum, sorot matanya sangat teduh,  sabar, dan begitu merendahkan diri, terlihat sedikit terharu,  dan..entahlah..saya baru sekali ini rasanya mel;ihat orang yg wajahnya begitu arif dan  menggugah hati.. bahkan wajah para ustad yg banyak saya temui rasanya belum ada yg sedemikian tawadhu nya...

Pak tua itu berjalan dengan penuh hormat memasuki ruangan, bahasa tubuhnya begitu rendah hati  seakan beliau sedang berdiri di depan seorang  raja...lalu dia mengatur duduk para jamah ibu ibu itu, dan mulailah mereka melantunkan  Barzanji (syair puji pujian untuk Rasulullah SAW) ...saya terus amati dengan heran..saya belum pernah dengar Barzanji sebelumnya..yang paling aneh adalah pak tua itu selalu mengontrol suara Barzanji ibu ibu itu agar tetap pelaaan..sangat pelan malah...lembut dan syahdu..ketika mereka agak semangat dikit sehingga suaranya mengeras, dengan tergopoh gopoh beliau menggerakkan isyarat tangan "turunkan volume suara"...kira kira begitu maksudnya..para ibu ibu itu pun patuh...sehingga Barzanjinya sangaaat syahdu., bakan nyaris seperti berbisik.. Aneh...saya berpikir pikir...ini aliran apaan ya???....Tiba tiba seperti ada jawaban yang menyambar masuk ke kepala saya " ITU KARENA MEREKA SEDANG BERHADAPAN DENGAN RASULULLAH"....Astaghfirullah..saya tersentak...Astaghfirullah.. saya gemetar, .terbayang tadi cara saya masuk ke ruangan ini, dengan pongahnya ...seperti turis yang asyik melihat lukisan...celingak celinguk, intip sana sisi ke pagar Makam Rasulullah..hiiii.... seakan akan itu ruangan KOSONG, tidak ada siapa siapa, terbayang tadi saya se enaknya memunggungi dan membelakangi makam  Rasulullah..alangkah sombongnya saya...langsung saya menangis sejadi jadinya...bagaimana bisa saya begitu bodohnya..tentu saja disini  "ada" Rasulullah.bukan sekedar MAKAM....bukankah dalam Al Quran dikatakan "sesungguhnya orang yang berjuang dijalan Allah itu tidaklah Mati?...Rasanya maluuuu setengah mati...malu pada Allah, Pada Rasulullah, pada Shahabat Rasul yang juga dimakamkan di sebelahnya.

Pantaslah pak tua itu sedemikian hormatnya , bahkan tidak berani mengeraskan suaranya, bicara pun bisik bisik, bahkan arah jalannya pun dia atur sepertinya agar tidak memunggungi Makam Rasulullah....Saya juga ingat ada Ayat yang memerintahkan kita AGAR MERENDAHKAN SUARA SAAT BERHADAPAN DENGAN RASULULLAH...dan Pak tua itu paham betul makna ayat ayat itu..Subhanallah...Jelas beliau sangat cinta Rasul..bukan seperti saya yang "cinta Rasul" nya  cuma di komat kamit doang...

Sungguh suatu pelajaran yang berharga..rasanya seperti di "jitak" sama Allah.- skak matt- ..atas ke  "songong an " saya...dan saat itu pun saya pahamlah..seperti apa orang orang yang Cinta Rasul..kira kira seperti pak Tua itulah sikapnya..

so..kehebohan para asykar yang teriak teriak dan marah marah , para pembimbing yang bertengkar, para ibu yang rebut rebutan dan sikut sikutan..bagi saya sangatlah menyedihkan...sadarkah kita sedang berada  di depan Rasulullah???...  Wallahualam Bissawab. 










 




 



Sunday, September 21, 2014

DAY 1 : From Jeddah to MADINAH

Arrived: JEDDAH -King Abdul Aziz Airport

Perjalanan saya memakai Lion Air, sekitar 12 jam perjalanan. makanannya Alhamdulillah enak and kenyang and sering, 3 kali makan plus snack , (Perasaan makan melulu deh)...gak perlu takut lapar di pesawat. tapi..ada baiknya anda siapkan minuman dalam botol mineral buat di bandara Jeddah. minta di isikan pramugari juga boleh. karena ternyata saat kami sampai di Jeddah, sudah masuk waktu maghrib, toko di pelataran bandara pada tutup,  sementara hausnya bangeeet, tapi gak ada minum. selain itu jarak antara tempat tunggu dan toko minuman lumayan jauh.

Dari pesawat kami di masukkan ke ruang tunggu atau istilah saya ruang karantina, karena kita gak boleh keluar dari ruangan tersebut, menunggu selama 1-3 jam untuk dibukakan pintu imigrasi.
Di ruangan tunggu ini sudah ramai beberapa orang yg menawarkan kartu telpon yang bisa dibeli seharga 120 rial, bisa untuk telpon ke Indonesia. Saya tidak tertarik, karena saya kebetulan pakai simpati, sebelumnya kita bisa register ke simpati paket Umrah/Haji, secara otomatis begitu sampai Saudi , telkomsel akan berubah nama jadi nama salah satu provider di sana.
 Dan  kita bisa telpon langsung ke Indonesia tanpa roaming. Tarifnya kalau tidak salah sekitar 6000 untuk 1 menit. lebih baik kita yang telpon ke Indonesia, dari pada sebaliknya, karena kena roaming baik yg di Indo maupun yg di Saudi.

Menunggu giliran cek imigrasi ini gak bisa dipastikan berapa lama waktunya, kalau lagi beruntung, 1 jam sudah bisa antri imigrasi, tapi bisa juga 4 jam kemudian pintu karantina di buka. Alhamdulillah, kami menunggu sekitar 1,5 jam, wanita di minta berbaris duluan dan keluar ruang karantina menuju loket pemeriksaan imigrasi, dari loket itu langsung di arahkan ke ruangan bagasi, sebuah ruangan besar dimana koper-koper kita sudah rapih berbaris berdasarkan travel bironya.

Saya langsung mengambil troley dan mengumpulkan koper-koper saya, karena menurut informasi peraturan terbaru di Saudi, para penumpang harus membawa koper masing2 untuk di masukkan ke scanner. (Sebelumnya, pihak travel lah yang mengurusi koper jamah melewati scanner).Tetapi tidak perlu khawatir angkat koper berat-berat, karena di sekitar meja Scanner, biasanya sudah ada beberapa tenaga kuli angkut yang di sewa biro travel, untuk membantu jamaah nya. Mereka lah yang akan menumpuk koper kita diatas troley dan membawanya ke area tunggu di pelataran luar bandara.

Pelataran tunggu di Jeddah berupa teras  luas yang dittutupi tenda-tenda besar,  lumayan gerah ..tidak ada fan atau AC..ngirit lah..dan haus lah...(nyesel tadi di pesawat gak ngisi termos) . Disini ada tempat duduk untuk tunggu keberangkatan dengan bis. juga ada Toilet yang luas , airnya melimpah (lumayan buat segarkan badan yang lengket selama di pesawat), dan Mushalla yang sebenarnya berkarpet dan sederhana saja, tetapi shalat di situ buat saya terasa nikmat banget, karena bisa meregangkan badan yang pegal duduk selama 12 jam di pesawat. rasanya bersyukur banget Allah kasih kita gerakan Ruku dan Sujud, seluruh urat yang kaku dan nyeri jadi lemas kembali.

Sekitar 1 jam menunggu, bis nya pun siap menaikkan penumpang, kami naik berdasarkan nomor rombongan yg sudah di tempel di depan Bis masing-masing. Ditengah perjalanan kami mampir ke sebuah masjid untuk Shalat Isya,  saya lupa nama masjidnya, tetapi sepertinya Masjid ini jadi tempat singgah banyak jamaah yang menuju Madina. karena sudah malam, kondisi toilet sudah tidak bersih, beberapa kran airnya tidak jalan, malah ada toilet yang berserakan pampers anak di lantainya. Aromanya??...Lumayaaannnn...saran saya , siap siap bawa botol air mineral untuk dapat digunakan di dalam toilet, karena gayung pun terbatas. Tisu Basah akan sangat bermanfaat dalam situasi begini..

Diperjalan kami di berikan makan malam nasi kotak, penasaran dengan menunya?..Ayam panggang Mas Joko (kalau saya gak salah)...lengkap dengan sambal terasi, kerupuk udang dan nasi segunung..jadi serasa travel ke Jawa nih..Kenyang banget, malah banyak yang gak habis..Kalau masalah makanan, Insya Allah tidak ada keluhan deh..Top markotop..

Perjalanan sekitar 4-5 jam , kami sampai  di Madinah sekitar jam 11 malam, di HOTEL Al-HARAM, sebuah Hotel bintang 4 berlokasi di Ring-2 terhadap masjid Nabawi, sekitar 3 menit jalan kaki menuju Masjid. Hal yang saya suka dari hotel ini adalah speaker masjid  yang terhubung ke kamar, sehingga dengan jelas kita bisa dengar suara Adzan, selain itu channel TV yang hanya menyiarkan kegiatan di masjid Nabawi dan masjidil Haram. (Aneh ya, di Makkah malah kita bisa melihat aneka Channel yang tidak Islami)..












JADWAL HAID VS JADWAL UMRAH (ALLAH Pengabul DOA)

Nah, buat para Ladies..yang satu ini mungkin bermanfaat untuk di pelajari:)

Pengalaman saat haji dulu membuat saya waspada dengan jadwal bulanan satu ini, lagi seru serunya ibadah..eh dia datang deh, jadilah selama 1 minggu saya tidak bisa sholat di masjid, tapi sebagai gantinya saya duduk di Halaman Masjid dan berzikir saja sambil lihat2 tingkah polah dan seliweran jamaah dari berbagai bangsa.Waktu itu saya Haji tahun 1997 , jadwal Stay di Saudi 4 minggu. Sekarang, stay nya lebih pendek, kalau tidak salah hanya 3 mingguan, jadi kalau haid..ya berasa bener "kehilangannya"..

Jadi sebelum menentukan tanggal Umrah, saya set dulu supaya gak tabrakan dengan jadwal haid. Tetapi saya punya rencana, Allah punya rencana juga , wk..wk..ndilalah si Haid ini gak keluar sesuai jadwal, panik lah saya. Seminggu sebelum keberangkatan belum juga muncul nih Bulan, lalu saya makan jamu, obat, urut ..gak juga datang bulan..lalu ke bidan, rencananya mau minta pil pengatur kesuburan.....eh malah di omelin habis2 an...".IBU, tolong ya, kalau mau berangkat Haji atau UMRAH, jangan seminggu sebelumnya  datang ke saya..tapi sebulan sebelumnya...supaya bisa dikasih pil pengatur kesuburan..kalau sudah mepet gini ya sdh gak bisa...bilangin sama ibu2 lain juga.."..lalu saya disarankan ke Dokter spesialis kandungan, karena siapa tahu saya Hamil..." Kayaknya gak mungkin hamil deh Dok, sudah 10 tahun saya gak hamil tuh meskipun tanpa KB"..saya ngeyel..eh..dimarahin lagi saya " Ibu jangan takabur...mana tahu hamil.."..'Astaghfirullah, iya juga ya"...walaupun kesel di omelin, tapi saya terima juga deh omongan bu bidan yang lagi jutek ini, he..he..

walhasil saya pun ke dokter kandungan, .."gimana nih Dok?..hamil gak?.."Gak kok bu, tapi ini dinding rahim sudah tebal, perkiraan saya 3-4 hari lagi bakal haid".."yah Dok, gimana dong, berarti saya haid nya disana dong..".
."kalau menurut saya, yang namanya Umrah itu kan kita harus Ikhlas, Bu..ya sudah di- ikhlas kan saja, kan Allah juga tahu niat kita ibadah, lagian Haid itu kan proses alami, Allah juga yang kasih"...lha..aku malah di "ngaji-in" sama Dokter, (padahal maksudnya minta obat, yang dikasih obat hati, he..he...)
Saya: masih ngeyel..." emang iya sih Dok, harus Ikhlas, cuma masalahnya saya ini dorong ibu saya di kursi roda, kan kasihan kalau ibu saya gak bisa masuk masjid, nanti thawaf dan Sa'i nya gimana?"..."Gini aja Dok, gimana kalau 2 -3 hari ini saya dikasih obat percepat Haid, lalu setelahnya dikasih obat penghenti Haid?"saya sok diskusi pinterr sama Dokter,akhirnya Dokter yang jadi ikutan mumet memberikan obat seperti yang kami diskusikan.

Obatnya saya minum, tapi sudah 3 hari kok gak keluar juga nih Haid?? wah..bener-bener Allah lagi ngajak becanda nih...semua upaya sudah ditempuh, akhirnya saya pun pasrah lah..Ya Allah, ini semua pasti bagian dari rencana MU , Ya kan???;;;udahlah, dari pada stress mikirin Haid , jalani ajalah apa adanya..

Kalau sebelumnya doa nya gencar supaya Haid segera, maka sekarang banting setir , doanya ganti jadi " Ya Allah, ijin kan aku sholat di masjid Nabawi dan Masjidil Haram"...

Selama di pesawat, bolak balik saya ke kamar mandi, periksa apakah Haid atau tidak? 
kami sampai di Jeddah maghrib,ternyata saya masih bisa sholat maghrib di Bandara Jeddah..
BTW,  inilah salah satu sholat yang paling indah , setelah 12 jam duduk saja di pesawat, pinggang rasanya kaku n ngilu,Alhamdulillah saat bisa sholat secara normal, dengan  rukuk dan sujud.rasanya urat yang kaku ketarik semua,  nikmaaattt banget sholatnya, pegel-pegel jauh berkurang.  

Kami sampai di Madinah malam jam 10 an, (dapatnya  Hotel AL-HARAM , bintang 4, dan jarak ke masjid hanya sekitar 3 menit jalan kaki).harus istirahat karena besok paginya setelah shubuh, kami harus kumpul di LOBBY untuk di pandu ziarah ke Raudhah. Alhamdulillah, hari pertama di Madinah saya masih bisa dapat sholat shubuh, ziarah ke raudhah, sampai sholat maghrib.

 Dan..Bom waktunya pun tibalah, menjelang Isya..saya pun Haid lah.(padahal obat penahan haid dari Dokter spesialis kandungan gencar saya minum) .haduhhh, sedih juga nih, tapi Alhamdulillah sudah sempat sholat di masjid Nabawi dan sudah Ziarah ke Makam Rasul. bukankah saya selalu doa supaya di ijinkan sholat di Masjid Nabawi dan Masjidil Haram, Allah sudah kabulkan yang pertama, tapi gimana dengan nanti di Makkah???...

Saya pun "lari" lah ke Ustadz pembimbing,,
" Pak ustadz, kalau haid begini, apakah bisa tetap ber UMRAH?"

 Pak Ustadz yang sudah lama mukim di Makkah ini pun berkata " IBU...berdoa sama Allah minta supaya haid nya di hentikan, lalu minum air Zam-Zam sebanyak-banyaknya..Insya ALLAH, besok PASTI berhenti haidnya"....wah, mantab n Yakin Haqqul Yaqien pak Ustadz.
Dalam hati saya : lha .udah gitu aja?? cuma minum Zam_Zam??

." Insya Allah pak, tapi kalau ternyata belum berhenti juga, apa yang harus saya lakukan?"..saya ngeyel.(.ketahuan banget ceteknya kadar "keyakinan" saya pada ALLAH, Astaghfirullah..)
"Kalau belum berhenti juga , ibu tetap berniat IHRAM saat  kita MiQAT nanti, lalu Insya Allah sekitar 2 hari saya yakin haidnya sdh berhenti , Ibu mandi Janabat, lalu baru boleh ke Masjid untuk meyelesaikan seluruh prosesi Umrahnya"
"wah..berat juga ya Pak Ustadz, berarti selama beberapa hari itu posisi saya dalam keadaan HARAM kan?

 " Iya.." kata pak Ustadz kalem, padahal saya sdh ketar ketir, posisi HARAM itukan berat, gak boleh terlihat aurat oleh siapapun, gak boleh asal garuk, nanti takut rambutnya atau kulit rontok, gak boleh bicara sembarangan, dan serangkaian larangan lainnya, yang kalau dilanggar bisa kena DAM atau bahkan membatalkan UMRAHnya.
saya pun termangu-mangu..ini lah cobaan dan ujian dari ALLAH untuk saya, Pak Ustadz pun menguatkan hati saya dengan meyakinkan minum Zam-zam sebanyaknya dan doa minta pada Allah, BESOK PASTI BERHENTI HAID nya.

Sayapun minumlah Zam-Zam sebanyak banyaknya sambil terus berdoa (sambil juga minum obat penahan haid dari dokter) , sekali ini doanya saya rubah (lagi),," Ya Allah, tolong hentikan Haid ku, dan tundalah sampai aku pulang ke Indonesia, dan ijinkanlah aku mengikuti semua kegiatan selama di tanah suci Mu ini"...Soalnya saya baru sadar doa saya sebelumnya kurang tepat, saya "cuma" minta di ijinkan sholat di masjid Nabawi dan Masjidil haram, tapi lupa ada acara ke Masjid Qubaa, padahal ada Hadist yang mengatakan keutamaan Sholat di masjid Qubaa, sama seperti mengerjakan Umrah, Ya Allah..rugi banget rasanya..

Tapi dari sini saya sadar "jeweran" dari Allah, bahwa saya harus berprasangka baik sama Allah, Allah mengabulkan doa kita  itu benar banget  adanya, buktinya saya minta bisa sholat di Masjid Madinah di kabulkan, tapi gak bisa sholat di masjid Quba..lha wong saya gak minta..he..he..kalau istilah orang Betawi
 " Ente Minta..Ane kasih.."

Ternyata Allah (kembali)  kabulkan doa saya, dan membuktikan pada saya bahwa sama Allah itu kudu percaya gak boleh ragu, percaya seperti Haqqul yaqien nya pak ustadz,karena:
 hanya dalam 1 hari saja HAID saya pun berhenti total....Subhanallah..Alhamdulillah...beginilah cara Allah mendidik saya, sekian banyak upaya, dana  yang saya lakukan di tanah air untuk mengatur jadwal HAID (saja),semuanya gagal total, rencana saya gak bisa melawan rencana ALLAH, bahkan untuk urusan yang paling sepele pun.. kalau Allah bilang KUN..FAYAKUN....Allah ajari saya agar jangan sombong,  jangan sokmenggunggulkan  teknologi , punya dana, merasa educated n smart  untuk mengatur ini itu maka rencana kita bakal selalu terlaksana, padahal semuanya terlaksana hanya dengan ijin ALLAH.

Alhamdulillah, saya pun akhirnya bisa Sholat lagi di masjid Madinah, kareana Haid saya hanya 1 hari, dan bisa Umrah dengan "normal" seperti jamaah lainnya, mengikuti semua prosesi dan jadwal yang di buat panitia, hampir selalu saya doa " YA Allah, ijin kan saya mengikuti seluruh kegiatan di tanah Suci Mu ini, tundalah Haid ku sampai aku pulang ke tanah air"
Kalau dipikir2..konyol juga ya..bagaimana urusan Haid ini jadi bikin mumet dan mendominasi doa saya.. sampai akhirnya kami pulang ke tanah air, turun dari pesawat, dalam perjalanan ke pengambilan Bagasi , tiba-tiba saya merasa ingin ke Toilet..dan..Subhanallah...ternyata haid saya sudah keluar cukup banyak tanpa saya sadari...Masya ALLAH..saya jadi ingat doa saya " TUNDALAH HAID saya SAMPAI SAYA KEMBALI KE TANAH AIR.."..dan ...begitu kaki saya  menginjak bandara Sukarno Hatta , doa saya langsung di kabulkan...Astaghfirullah..Subhanallah..Walhamdulillah...

psst...harusnya doa saya "tundalah haid saya sampai saya kembali ke rumah"...begitu pasti lebih nyaman buat saya..wk..wk...halah dasar...

Kejadian ini sengaja saya share, bagi para LAdies yang mungkin mengalami hal yang sama saperti saya saat UMRAH atau HAJJI...Semoga Bermanfaat..Wallahu 'alam Bissawab.