Saturday, June 7, 2014

Umrah bagi Jamaah Dengan Kursi Roda

Umrah Bersama Kursi Roda
*******************************************************************************************


Urusan kursi Roda ini rada simpang siur informasinya.

Suami saya tanya ke temannya yang PILOT pesawat Lion Air yang biasa bawa jemaah umrah. Katanya
 " Kursi rodanya bawa saja sampai ke pesawat, nanti serahkan ke pramugari, biar mereka yang simpan"..Naah lega deh hati, berarti Insya Allah  Ibu saya gak perlu khawatir ke capean berdiri/antri kelamaan baik saat di Imigrasi di Indonesia, maupun di Saudi.


Tetapi ketika ditanya ke Pengurus Umrah jawabannya beda lagi " Kursi Rodanya harus masuk bagasi, nanti dari pihak pesawat  akan sediakan kursi roda , jangan khawatir".
Masalahnya kalau di Indonesia sih saya gak khawatir, tapi di negri orang sana gimana ya??

Akhirnya saya memilih memasukkan kursi roda ke bagasi saja... kursi Roda itupun masuk bagasi bersama koper besar kami, sehari sebelum keberangkatan dia di serahkan ke panitia untuk di bungkus dengan Plastic  "wraping"  (harganya Rp.50 ribuan). saya baru akan melihatnya lagi nanti di Jeddah, setelah ambil bagasi.

Ternyata apa yang saya kuatirkan jadi kenyataan ( saya salah kali ya, harusnya gak usah punya pikiran aneh-aneh, ntar malah terjadi betulan deh).
Begitu sampai di Jeddah, para lansia yang pakai kursi roda tidak boleh kami dampingi, kami dipersilahkan turun duluan,  mereka akan di urus oleh para pramugara/i ke suatu kendaraan khusus yang akan membawa mereka ke ruang tunggu.

kami tiba lebih dulu Di ruang tunggu (saya menyebutnya "ruang karantina") yaitu  ruang   besar yang menampung seluruh penumpang pesawat, kita menunggu, biasanya  sekitar 1-4 jam sampai diperintahkan  untuk  antri ke loket imigrasi, selama itu tidak boleh keluar ruangan.  .

Kendaraan lansia itu datang sekitar 15 menit kemudian, seperti bis 2 lantai , dengan lantai tingginya sejajar pintu pesawat, sehingga para lansia tidak perlu turun tangga, lalu  tiap 4 orang diminta keluar untuk berdiri di anjungan terbuka seluas 1.5 x 2 meter, berpegangan pada pagar anjungan  , lalu pelan pelan anjungan itu turun (seperti lift )  sampai menyentuh tanah di depan pintu masuk ruang karantina .

Para Lansia itu saya lihat rada "keder" juga, maklumlah ada yang berdiri aja sudah goyang-goyang, ada juga yang sudah meringis kesakitan gak tahan berdiri, saya juga deg-deg an, pasalnya  di anjungan itu mereka tidak di dampingi crew, yang ada hanya seorang petugas bandara di depan pintu ruang karantina yg hanya berdiri saja mengawasi mereka, lalu berteriak memanggil kami para anggota keluarganya untuk menjemput di balik pintu , itupun kami tetap tidak dibolehkan menjemput  keluar pintu ruang karantina.

Seorang jamaah sampai geleng kepala " Ya Allah  itu petugas, mbok ya di bantu pegangin, kalau jatuh gimana?.sayapun melihat pemandangan itu jadi  miris ;  para lansia itu saling berpegangan , jalan pelaaan pelaaan menuju pintu ruang tunggu.Ujian ketabahan  dalam Umrah ini sudah dimulai bagi mereka, bahkan sesaat baru turun dari pesawat.

Ada sekitar 12 lansia yang perlu kursi roda, tapi di ruang tunggu hanya tersedia 2 buah kursi roda milik bandara . Siapa yang kebagian kursi roda adalah berdasarkan selera si petugas saja, dia akan menunjuk lansia yang menurutnya paling 'parah', yang lainnya silakan jalan.

Sekali lagi disini kesabaran kita dan orang tua yang kita bawa di uji, dari pada ngedumel panjang pendek, lebih baik berdoa minta pada Allah supaya fisik kita dan orang tua di kuatkan,kuat antri dan berkegiatan lainnya  meski tanpa kursi roda, kita berprasangka baik saja pada Allah, bahwa yang gak kebagian kursi roda itu, berarti menurut Allah memang masih kuat berjalan.

Saya melihat ada jamaah yang lapor ke pembimbing nya, minta di carikan kursi Roda, tidak lama datanglah seorang warganegara Pakistan membawa kursi roda untuk jamaah lansia dimaksud, setelah tanya2 biayanya sekitar 100-200 riyal, lumayan juga yah. Tapi memang saya melihat petugas itu dengan sigap membawa pasiennya paling duluan keluar  antrian, (kalau pakai kursi roda memang di prioritaskan dalam antrian). 

Ibu saya ogah di sewain kursi roda waktu dengar harganya 200 riyal,- he he..mendingan buat oleh-oleh ya Mak. - " aku masih kuat kok." katanya ..wah semangat  juang 45 rupanya.  Maka beliau ikut antri imigrasi, lumayan panjang antriannya, lalu dari loket imigrasi diarahkan ke ruang pengambilan bagasi, Disana ternyata koper seluruh jamaah sudah berbaris rapi. saya cepat2 cari troley dan mengumpulkan bagasi saya , karena katanya ada peraturan baru yang lebih ketat  dari pemerintah Saudi ,bahwa sekarang jamaah harus membawa sendiri koper dan bagasinya untuk di perlihatkan pada petugas sebelum keluar bandara. (Dulu jamah hanya terima jadi, bagasi sudah nunggu  duluan di halaman bandara, jamaah hanya perlu bawa tentengan masing-masing saja). 


BER KURSI RODA Di Masjid Nabawi- MADINAH  :

Buat para "Kursi Roda -is" sholat di dalam Masjid Nabawi gak bisa bebas dimana aja, ada tempat2 tertentu yang diarahkan para asykar. Biasanya shaf kursi roda ada dekat pintu masuk. Kursi Roda di jejer sehingga membentuk shaff, Nah repotnya kita yang dorong ini gak bisa sholat di sebelahnya, kita harus cari tempat sholat lain yg terdekat.  Yang agak bebas sih ya sholat di halaman Masjid saja . Bisa sebelah-sebelahan.

Bagaimana kalau mau ke Raudhah??..ternyata ada jalur khusus juga, antri masuknya, jalur kusi Roda  dipisahkan oleh tirai dan dijaga ketat asykar, jadi gak bisa menyerobot. Antrinya Lumayaaan bikin pegel kaki yang dorong, he..he (Kalau yg di dorong kan duduk, gak pakai pegel), rasanya dari dalam area sholat wanita sampai ke depan Raudhah itu saya antri hampir 1,5 jam, padahal jaraknya cuma 10-15 meter.  Ya sudah sambil antri, kita baca doa doa yg ada di buku panduan aja. itu juga begitu melihat pagar hijau makam rasul (meskipun belum sampai Raudhah) hati ini sudah gak tahan, langsung bercucuran air mata.Pemandangannya di arena itu seragam, Sambil dorong kursi roda , sambil baca buku doa, sambil nagis senguk senguk. Hampir semua jamaah "pendorong" begitu .   

Karena Area di Raudha itu sempit dan itupun harus di bagi/dipisah dengan tirai antara jamaah biasa dengan jamaah kursi Roda, maka area  sholat jamaah kursi roda hanya sekitar 3 x 3 m, muat sekitar 15-20 kursi roda di "empet-empet in" .
 Tiap shift diatur asykar membentuk shaf, lalu dikasih kesempatan buat sholat dan doa sekitar 10 menit, malah kadang cuma 7 menit. Lha terus yang dorong piye??, ya sholatnya nyempil di barisan paling belakang, itupun sempiit banget, buat ruku aja susah, Kalau sujud..kepala menjulur ke sela-sela roda. Tapi Alhamdulillah -lah, dari pada gak dapet sholat. Soalnya sholat di area kursi Roda itu lebih tenang, tertib dan khusyu dibandingkan di bagian orang "normal". Waah, Kalau di sana, serasa sholat di arena perang, sikut2 an, dorong2 an, rebut2 an and kuat-kuat an.

Alhamdulillah ibu saya dapat tempat paling ujung kiri depan, masuknya paling duluan, keluarnya paling belakangan, jadi waktu doanya lebih panjang. yang "nyesek" yang masuk paling belakangan, baru doa sebentar , asykarnya sudah suruh bubaran gantian dengan shift berikutnya. Mungkin ini ReZeki Allah, karena tadi ada ibu2 tua yang gak tau kalau harus antri, main nyelonong aja ke depan, lalu di amuk-amuk sama asykar yang berteriak-teriak, akhirnya saya kasih si ibu masuk kedepan barisan saya, dari pada ribut.

Saya ingat ada ayat Al Quran yang memerintah kan kita untuk "Merendahkan suara" di hadapan Yang Mulia Rasulullah. Dan .semoga kita juga tidak lupa ayat Al Qur an yang mengatakan "bahwa Rasulullah dan orang-orang yang Berjihad itu "tidak mati" tetapi mereka itu tetap "hidup", bayangkan Rasulullah berdiri dihadapan kita, menyambut kita, kita bertamu ke hadapannya, tapi kitanya saling teriak, saling sikut, rebut2 an tempat, dorong-dorongan. pasti Sedih hati Rasulullah melihatnya. Wallahu'alam Bissawab. 
    

BER"KURSI RODA " di MASJIDIL HARAM -MAKKAH 

Bagi Jamaah dengan KURSI RODA di MAKKAH, untuk kegiatan Sholat tidak ada pengaturan khusus area kursi roda seperti di Madinah. Tetapi tentu saja harus pintar2 cari jalan masuk dan bersegera ke masjid agar bisa dapat tempat di lantai dasar. Masjidil Haram memiliki banyak tangga-tangga, sehingga akan kesulitan jika terlambat datang, harus turun tangga  ke lantai Basement.Kebayang repotnya angkat angkat kursi roda di sepanjang tangga...ngos-ngos an...

Atau bisa juga masuk ke area Thawaf  Lingkaran di lantai 2, area ini di prioritaskan bagi Jamaah Kursi Roda, baik yang ingin Thawaf maupun sholat.  Ada Ramp khusus yang dapat di akses dari halaman luar masjid sampai masuk ke dalam area masjid, khususnya area Thawaf Lingkaran. Di area ini tidak terlalu padat. Bahkan untuk Thawaf pun nyaman dan tidak terlalu melelahkan. Kita dapat melihat Ka'bah sampai atapnya dari sini, termasuk melihat betapa menakjubkan dan dasyatnya arus padat jamaah yang sedang thawaf -berputar putar di lantai dasar; diringi  lantunan doa thawaf yang bersahut-sahutan, bagaikan suara dengung ribuan lebah  Pemandangan yang sangat membekas di dalam jiwa. 

Kalau dulu jamaah kursi roda masih boleh Thawaf di depan Ka'bah langsung ( di lantai dasar), sekarang sama sekali dilarang. (karena Sudah pengalaman di usir asykar, he..he). Karena itulah oleh Ustad pembimbing, saya disarankan hari pertama di Makkah agar sewa kursi roda aja + jasa pendorongnya,  (meskipun saya sudah bawa kursi roda sendiri dari Indonesia) ,karena dia lebih tahu jalan jalan masuk ke area Thawaf  dan SA'I yang baru, dan dia akan mengajarkan pada kami jalur-jalur khusus ini agar kami nanti bisa jalan sendiri tanpa di pandu. .

Jasa Pendorong Kursi Roda 300 riyal, (sudah termasuk Kursi roda nya, yang sebenarnya  boleh kita pakai selama kita di Makkah) , dan kita di tuntun membaca doa-doa serta sholat di tempat2 yang mustajab, termasuk pada saat SA'I.
Untuk mendapatkan pendorong nya orang indonesia, harus booking dulu minimal sehari sebelumnya  ke panitia, karena tidak bisa dadakan. Sebenarnya bisa saja kita pakai jasa orang Arab yang memang sudah stand by di depan pintu masuk area Thawaf, mereka biasanya dikenali dari seragam Rompi, tetapi kurang sreg rasanya, karena mereka cenderung buru-buru mendorong kursi rodanya, kadang kadang sambil lari-lari, malah salip salip an dengan sesama rekannya.. kan gak seru, maunya khusyuk kok malah  serasa jadi peserta  "Balap Formula One". he he

Kami dapat Orang Indonesia asal Madura, begitu sampai di Makkah, kami ke kamar hotel untuk meletakkan koper, tidak lama pintu diketuk, ternyata seorang ustad yang akan membawa dan mendorong Kursi Roda kami, dia  sudah siap dengan berpakaian Ihram. Langsung dia mendorong Kursi Roda Ibu saya, saya ikut dampingi di sebelahnya, sambil menuntun arah jalan yang harus kami ingat, karena besok-besok kami harus jalan sendiri. jalur kursi Roda memang beda dengan jalur pejalan kaki.

Selesai Thawaf di lantai 2 Lingkaran, kami dituntun sholat, lalu Minum air Zam zam lengkap dengan tata cara dan doa-doanya, langsung dibawa lewat jalur khusus kursi roda ke area SA'I . Sa'I juga memiliki jalur khusus Kursi Roda. nah buat yang mendampingi, area SA'I ini lantai licin, yang dorong kursi roda jalannya cepat, saya sampai harus setengah berlari mendampinginya, sambil menahan kaki agar tidak tergelincir karena lantai licin, sementara saya harus menutup aurat dengan kaus kaki..akibatnya betis saya nyaris kram karena kelelahan, saya jadi ingat bahwa lain kali, baiknya pakai kaus kaki yg bawahnya ada lapisan karetnya, atau pakai sepatu kain (semacam sepatu tidur) yg bawahnya berkaret, agar tidak naik betis.

Nah, kalau anda sudah bawa kursi roda sendiri dari Indonesia, dan tidak merasa perlu sewa lagi, Bisa saja, hanya saja harus kenal jalur2 khusus Kursi Roda, ada baiknya di tanyakan pembimbing anda, pada orang sekitar, atau Orang Indonesia yang kerja di sana. Kalau anda wanita, bisa tanyakan pada Petugas Wanita berseragam Coklat yang mengurusi Air Zam-Zam dan kebersihan masjid.,meskipun bercadar, jangan khawatir , mereka bisa bahasa Indonesia, karena... mereka ini hampir seluruhnya Orang Indonesia, umumnya dari Jawa barat.


Oh Ya..RAMP kursi Roda menuju area Thawaf lingkaran  berada di arah sebelah kanan "Jam Besar " yang ada di Halaman Masjidil Haram. Jam ini sering jadi Patokan jamaah untuk menentukan arah. terletak tepat di halaman pintu masuk HOTEL ZAM-ZAM.

Semoga bermanfaat..Aamiin.

5 comments:

  1. Trimakasih infonya. Sangat bermanfaat. Jadi sebaiknya kursi roda yg kita bawa dari indonesia dibagasikan atau tidak? Tks

    ReplyDelete
    Replies
    1. di diskusikan dengan agen travelnya nya pak. bagaimana baiknya..maaf telat replynya..

      Delete
  2. Infonya brmnfaat..oya biaya 300 real itu apa bs kursirodanya digunakan berhari2 sampe umroh selesai??

    ReplyDelete
  3. Alhamdulillah...makasih infonya...krn InsyaAlloh skami pingin Umroh dengan Ibu kami yg usianya 85th

    ReplyDelete